Kisah Wanita Indonesia yang 'Dilamar' Google

Kisah Wanita Indonesia yang 'Dilamar' Google

Amanda Surya, Head of Engineering Program Management untuk Nest di Alphabet. Liputan6.com/Jeko Iqbal Reza

Liputan6.com, Mountain View - Salah satu dream job semua calon pelamar kerja, baik itu fresh graduates atau yang sudah berpengalaman, adalah ingin meniti karier di sebuah perusahaan besar, tak terkecuali di Google.

Bagaimana tidak, Google kini dipandang sebagai salah satu perusahaan teknologi paling prestisius di dunia. Gaji tinggi, fasilitas mewah di mana-mana, belum lagi "koneksi" yang luas sampai ke jaringan luar negeri jadi jaminan mutlak bagi Googlers (sebutan karyawan Google).

Apalagi, semua yang disebutkan barusan sudah pasti akan dialami oleh Googlers yang bekerja di kantor pusatnya, Googleplex, di Mountain View, California, Amerika Serikat (AS).

Nah, dengan segala kelebihan yang ditawarkan Google, apakah memang benar-benar asyik bekerja di perusahaan ini? Terutama mengingat Google juga termasuk sebagai salah satu perusahaan yang selektif memilih karyawannya.

Diketahui, Google pernah menerima 5.000 pelamar dari 2 juta lamaran. Saat itu, peluang calon pelamar 400 banding 1. Jelas saja, bekerja dengan orang-orang pilihan pasti jadi tantangan besar.

Amanda Surya, salah seorang karyawan Google berkebangsaaan Indonesia (atau juga sering disebut IndoGooglers), menanggapi asumsi ini dengan santai.

Sebelum beranjak ke kisah Amanda, ada sedikit catatan. Amanda adalah salah satu dari sekitar 50 IndoGooglers yang bekerja di Google Mountain View.

Rekomendasi