Jokowi: Geregetan, Negara Lain Maju Kita Sibuk Suudzon dan Fitnah

Jokowi: Geregetan, Negara Lain Maju Kita Sibuk Suudzon dan Fitnah

Presiden Joko Widodo memberi keterangan saat melakukan pertemuan dengan pelaku industri jasa keuangan di Istana Negara, Jakarta, Jumat (13/1). Jumlah UMKM di Indonesia terbilang cukup besar, yaitu lebih dari 50 juta UMKM. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Presiden Joko Widodo atau Jokowi rupanya sudah mulai kesal dengan kondisi masyarakat, yang justru sibuk dengan hal-hal yang tidak produktif. Padahal, banyak negara terus berkembang dengan perubahan dan kemajuan teknologinya.

Salah satu yang menjadi perhatian Jokowi adalah munculnya berbagai hoaks atau berita bohong dan saling hujat, khususnya di media sosial. Kondisi ini tidak boleh dibiarkan terus.

"Kita masih berkutat pada hal-hal yang tidak produktif. Urusan demo, urusan fitnah, urusan hujat-menghujat yang tidak produktif, dan selalu ini negatif," ujar Jokowi saat membuka Rakornas Pengawasan Intern Pemerintah di Istana Negara, Jakarta, Kamis (18/5/2017).

"Kita selalu mengembangkan negative thinking kita terhadap yang lain, suudzon terhadap yang lain. Fitnah, kabar-kabar bohong, apakah ini mau diterus-teruskan," dia melanjutkan.

Jokowi mengatakan dunia ini terus berubah setiap waktu dengan sangat cepat. Bila tidak memanfaatkan waktu untuk berubah dan belajar hal baru, Indonesia akan tertinggal.

Karena itulah, kata Jokowi, peningkatan disiplin dan etos kerja harus dimulai secepat mungkin. Indonesia akan terus tertinggal bila disibukkan dengan hal-hal tak produktif seperti itu.

"Inilah yang harus kita bangkitkan, disiplin nasional, etos kerja nasional kita yang harus kita ubah, mindset kita, pola pikir kita, harus kita ubah semuanya. Enggak bisa kita seperti yang kemarin-kemarin. Saya sudah geregetan betul dengan masalah-masalah tidak produktif itu," Jokowi menandaskan.

Rekomendasi